Wassup fellas! Kalau fellas memelihara kucing maupun Cat Lovers, pasti bukan jadi rahasia umum kalau memelihara kucing itu tidaklah mudah. Selain memperhatikan makanan dan kenyamanan, fellas juga harus memperhatikan kesehatan Anabul loh! Kucing peliharaan bisa terserang berbagai penyakit ringan sampai berbahaya, meskipun setiap harinya dipelihara di dalam rumah.
Masalah kesehatan kucing dapat dipengaruhi oleh usia, kondisi tubuh, makanan, dan mental dari Anabul itu sendiri. Sebagai pemilik kucing, fellas harus tahu penyakit apa saja yang ada pada kucing peliharaan di rumah, sehingga kalau gejala sudah terlihat pada kucing, fellas sudah tahu apa yang harus dilakukan. Nah, pas banget CeritaKucing.Id sudah punya list 10 penyakit umum pada kucing beserta pencegahannya, yuk langsung simak pembahasannya!

1. Kutu Kucing
Pada list pertama adalah penyakit umum yang rata-rata dimiliki oleh kucing liar maupun kucing rumahan. Penyakit kutu pada kucing adalah masalah umum yang disebabkan oleh kutu (flea). Kutu parasit bisa hidup dengan cara mengisap darah kucing. Kutu yang bersarang di bulu kucing bisa menyebabkan gatal sehingga kucing sering garuk-garuk. Fellas dapat dengan mudah mengetahui jika kucing terkena kutu karena biasanya kutu dan telurnya mudah terlihat pada bulu kucing. Kutu adalah parasit eksternal yang hidup di kulit kucing dan menghisap darahnya. Penyakit kutu bisa menimbulkan berbagai masalah kesehatan, termasuk iritasi kulit, alergi, dan dalam kasus yang lebih parah, anemia.
Gejala Kucing Terkena Kutu:
- Perilaku gelisah: Kucing bisa menjadi lebih gelisah karena merasa tidak nyaman dengan kutu yang menggigit pada tubuh mereka.
- Gatal dan garukan yang berlebihan: Kucing sering menggaruk atau menggigit area tubuh tertentu karena merasa gatal oleh kutu.
- Rontoknya bulu: Pada area yang sering digaruk atau digigit, bulu bisa rontok bahkan sampai menimbulkan kebotakan.
- Kulit merah atau luka: Akibat dari seringnya menggaruk, kulit kucing bisa iritasi, merah, bahkan terluka.
- Bintik hitam di bulu (Kotoran Kutu): Kotoran kutu dapat dilihat dengan mata telanjang, yaitu berupa butiran kecil berwarna hitam yang terlihat di bulu atau kulit kucing.
Dampak Kesehatan Kutu pada Kucing:
- Cacingan: Kutu bisa membawa telur cacing pita. Jika kucing menelan kutu yang terinfeksi, mereka bisa tertular cacing pita.
- Dermatitis akibat gigitan kutu: Reaksi alergi terhadap air liur kutu yang menyebabkan peradangan pada kulit dapat menyebabkan dermatitis.
- Anemia: Penyebaran kutu berat bisa menyebabkan anemia, terutama pada kucing kecil atau kucing tua.
Cara Pencegahan Penyebaran Kutu:
- Penggunaan Obat Anti Kutu:
Terdapat berbagai produk anti-kutu yang bisa digunakan dan dijual pasaran, seperti spot-on, tablet, atau semprotan. Obat ini bekerja untuk membunuh kutu dewasa dan memutus siklus hidup kutu. CeritaKucing merekomendasikan produk populer yang biasa digunakan sebagai obat anti kutu yaitu, fipronil, selamectin, dan imidacloprid, yang biasanya direkomendasikan juga oleh dokter hewan ya fellas!
- Kebersihan Lingkungan:
Untuk menjaga kebersihan lingkungan guna mencegah penyebaran kutu pada Anabul kesayangan, fellas bisa mulai dari cuci dan bersihkan tempat tidur kucing juga area di mana kucing sering beristirahat secara rutin. Langkah selanjutnya yaitu vakum karpet, sofa, dan permukaan lainnya untuk menghilangkan telur dan larva kutu yang mungkin tersembunyi. Apabila penyebaran semakin parah, coba untuk mempertimbangkan menggunakan insektisida atau meminta bantuan profesional untuk melakukan fumigasi rumah.
- Pemeriksaan Rutin:
Fellas dapat memeriksa bulu dan kulit kucing secara rutin, terutama setelah kucing bermain di luar atau berinteraksi dengan hewan lain. Fellas dapat menggunakan sisir kutu untuk memeriksa apakah ada kutu atau kotorannya di bulu kucing, bahkan untuk meluruskan bulu yang kusut juga bisa loh fellas!
- Mencegah Kontak dengan Hewan Terinfeksi:
Coba untuk batasi interaksi kucing dengan hewan lain yang mungkin membawa kutu, terutama hewan liar atau hewan peliharaan yang tidak dirawat dengan baik.
- Mandikan Kucing:
Cara untuk mencegah yang terakhir adalah dengan memandikan kucing dengan sampo anti-kutu khusus dapat membantu membunuh kutu yang ada di tubuh kucing. Jika kamu bingung harus menggunakan produk apa tenang saja, CeritaKucing.Id sudah memberikan rekomendasi sampo terbaik, kamu bisa cek artikelnya ya fellas!
2. Diare
Penyakit yang umum terjangkit oleh kucing selanjutnya adalah diare. Diare pada kucing adalah kondisi di mana kucing mengalami buang air besar dengan konsistensi feses yang lebih cair atau lembek dari biasanya. Penyakit ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk infeksi, diet yang tidak tepat, atau masalah kesehatan lainnya. Satu hal yang harus digarisbawahi adalah penyakit diare pada kucing tidak bisa dianggap remeh, walaupun diare adalah penyakit yang umum yang terjadi pada kucing tetapi kita tidak boleh menyepelekan diare pada kucing. Jika tidak ditangani dengan baik dan cepat, diare pada kucing dapat menyebabkan dehidrasi, komplikasi kesehatan, hingga kematian.
Gejala Diare pada Kucing:
- Feses cair atau lembek: Ketika kucing buang air, feses yang dikeluarkan berkonsistensi cair dan agak lembek
- Buang air besar lebih sering dari biasanya: Kucing akan lebih sering untuk buang air besar
- Feses berwarna tidak normal (cokelat, kuning, atau hitam): Ketika buang air, feses yang dikeluarkan tidak normal pada umumnya.
- Adanya darah atau lendir dalam feses: Darah dan lendir yang keluar dari feses kucing peliharaan juga bisa menjadi salah satu pertanda bahwa kucingmu sedang diare loh fellas!
- Penurunan berat badan jika diare berlangsung lama: Hal yang perlu diperhatikan adalah penurunan berat badan Anabul yang drastis apabila diare berlangsung lama.
Penyebab Diare pada Kucing:
- Perubahan Pola Makan: Memberikan makanan baru atau makanan yang tidak sesuai bisa menyebabkan gangguan pencernaan kucing peliharaan.
- Infeksi Parasit: Cacing usus seperti cacing pita, cacing tambang, atau protozoa seperti Giardia dapat menyebabkan diare.
- Infeksi Virus atau Bakteri: Virus seperti Feline Panleukopenia Virus (FPV) atau infeksi bakteri seperti Salmonella dan E. coli dapat menyebabkan diare.
- Intoleransi atau Alergi Makanan: Beberapa kucing mungkin alergi terhadap bahan tertentu dalam makanan, seperti susu, gluten, atau bahan-bahan lain.
- Keracunan: Kucing yang menelan benda beracun seperti tanaman beracun, bahan kimia, atau makanan yang tidak sesuai (seperti cokelat) dapat mengalami diare.
- Stres: Stres akibat perubahan lingkungan, kehadiran hewan baru, atau peristiwa traumatis bisa memicu diare.
- Penyakit Sistemik: Masalah kesehatan seperti penyakit hati, penyakit ginjal, dan hipertiroidisme juga bisa menyebabkan diare.
Cara Mengatasi dan Mencegah Diare pada Kucing:
- Hidrasi yang Cukup:
Pastikan kucing peliharaanmu selalu memiliki akses ke air bersih untuk mencegah dehidrasi akibat diare. Dalam beberapa kasus yang parah, fellas mungkin perlu memberikan cairan elektrolit untuk menggantikan cairan yang hilang pada kucing.
- Vaksinasi:
Vaksinasi rutin dapat mencegah infeksi virus yang dapat menyebabkan diare, seperti Feline Panleukopenia Virus.
- Perawatan Lingkungan yang Bersih:
Pastikan kucing peliharaan hidup di lingkungan yang bersih dan terjaga kebersihannya, termasuk kotak pasir yang harus dibersihkan secara rutin.
- Hindari Berganti Makanan Kucing:
Pastikan kucing peliharaanmu tidak berganti ganti makanan pada periode waktu yang dekat, karena berganti makanan terlalu sering dapat mempengaruhi kesehatan kucingmu.
- Konsultasi dengan Dokter Hewan:
Jika kucingmu mengalami diare yang berlangsung lebih dari 24-48 jam, atau jika terlihat darah dalam feses, segera bawa kucing ke dokter hewan. Penanganan medis diperlukan untuk mendiagnosis penyebab dan memberikan pengobatan yang sesuai.
Pengobatan Darurat di Rumah (Jika Diare Tidak Serius):
Puasa sementara: Jangan beri makanan selama 12-24 jam untuk memberi waktu pada sistem pencernaan kucing untuk pulih, tapi pastikan kucing tetap minum air.
Diet lembut: Setelah puasa, berikan makanan lembut seperti ayam rebus tanpa bumbu dan nasi dalam jumlah kecil untuk membantu pemulihan pencernaan.
Kapan Harus ke Dokter Hewan:
Diare berlangsung lebih dari 48 jam.
Kucing tampak lemah, lesu, atau mengalami dehidrasi.
Jika ada darah atau lendir dalam feses.
Diare disertai muntah atau demam.
3. Ringworm
Ringworm pada kucing, atau dikenal sebagai dermatofitosis, adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh jamur dermatofit. Meskipun namanya mengandung kata “worm” (cacing), penyakit ini tidak disebabkan oleh cacing, melainkan oleh jamur yang menyerang lapisan kulit, bulu, dan kuku kucing. Ringworm adalah penyakit yang sangat menular dan dapat menyebar ke hewan lain, bahkan manusia (zoonosis). Penyakit ini merupakan salah satu penyakit kucing yang menular ke anak atau orang dewasa. Penularan biasanya terjadi melalui kontak langsung pada area kulit yang terbuka atau pada benda yang telah terkontaminasi, seperti karpet, alas tidur, atau sikat, ngeri banget kan fellas!
Gejala Ringworm pada Kucing:
- Lesi kulit berbentuk lingkaran: Biasanya terdapat area melingkar di kulit kucing yang mengalami kerontokan bulu, sering kali terlihat merah atau bersisik.
- Kerontokan bulu : Kucing mengalami kerontokan bulu yang tidak merata, terutama di kepala, telinga, kaki, atau ekor.
- Kulit bersisik atau berkerak: Pada area yang terinfeksi, kulit kucing bisa tampak bersisik, kasar, atau berkerak.
- Gatal: Meskipun tidak semua kucing menunjukkan tanda-tanda gatal, beberapa kucing mungkin menggaruk atau menjilat area yang terinfeksi.
- Kuku rusak atau terdapat lesi: Pada kasus yang lebih parah, kuku kucing bisa tampak rapuh atau rusak.
Penyebab Ringworm:
Ringworm pada kucing disebabkan oleh beberapa jenis jamur, terutama Microsporum canis, yang paling umum ditemukan pada kucing. Jamur ini hidup di lapisan keratin (protein yang membentuk kulit, bulu, dan kuku).
Cara Penularan:
- Kontak Langsung: Kucing bisa tertular ringworm melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi atau manusia yang terinfeksi.
- Kontak dengan Benda yang Terkontaminasi: Jamur bisa bertahan di lingkungan, seperti di tempat tidur, mainan, atau sisir kucing, selama berbulan-bulan.
- Penularan pada Manusia: Ringworm adalah penyakit zoonosis, artinya bisa menular ke manusia, terutama anak-anak, orang tua, atau mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Cara Pengobatan Ringworm pada Kucing:
- Pengobatan Antijamur:
Obat Topikal: Krim, salep, atau sampo antijamur biasanya diresepkan oleh dokter hewan untuk dioleskan langsung pada area yang terinfeksi. Jenis pengobatan seperti miconazole atau clotrimazole sering digunakan.
Obat Oral: Pada kasus yang lebih parah atau jika infeksi menyebar luas, dokter hewan mungkin akan meresepkan obat antijamur oral seperti itraconazole atau terbinafine.
- Memandikan dengan Sampo Antijamur:
Memandikan kucing dengan sampo antijamur yang mengandung zat seperti chlorhexidine atau miconazole dapat membantu mengurangi infeksi dan mencegah penyebaran lebih lanjut pada kucing dengan penyakit ringworm.
- Isolasi Kucing yang Terinfeksi:
Karena ringworm sangat menular, penting untuk mengisolasi kucing yang terinfeksi dari hewan peliharaan lain dan anggota keluarga untuk mencegah penyebaran.
Cara Pencegahan Ringworm pada Kucing:
- Kebersihan Lingkungan:
Selalu jaga kebersihan lingkungan kucing, termasuk tempat tidur, kotak pasir, dan peralatan makan. Bersihkan area tersebut secara teratur untuk mengurangi risiko penyebaran jamur ya fellas!
- Perawatan Rutin:
Lakukan perawatan bulu kucing secara rutin dengan menyisir dan memandikan kucing menggunakan sampo untuk menjaga kebersihan dan kesehatan kulit kucing.
- Memperkuat Sistem Kekebalan Tubuh Kucing:
Kucing dengan sistem kekebalan yang kuat lebih jarang terinfeksi jamur. Pastikan kucing fellas mendapatkan makanan bergizi seimbang dan pemeriksaan kesehatan rutin untuk mendeteksi dan mencegah penyakit sejak dini.
4. Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA)
ISPA pada kucing atau Infeksi Saluran Pernapasan Atas (Upper Respiratory Infection/URI) adalah kondisi infeksi yang menyerang hidung, tenggorokan, dan sinus kucing. Penyakit ini mirip dengan flu pada manusia dan sering kali disebabkan oleh virus atau bakteri. ISPA pada kucing sangat menular, terutama di lingkungan dengan banyak kucing, seperti penampungan hewan atau tempat penitipan kucing. Infeksi saluran pernapasan (ISPA) pada kucing dapat terjadi akibat infeksi bakteri atau virus. Patogen ini dapat ditularkan ke sesama kucing melalui air liur saat bersin, batuk, atau saat makan bersama di wadah yang sama.
Gejala ISPA pada Kucing:
- Bersin dan Batuk: Bersin sering terjadi, dan kucing mungkin batuk atau tersedak.
- Mata Berair atau Bengkak: Infeksi virus atau bakteri sering menyebabkan mata berair atau bengkak (konjungtivitis).
- Hidung Tersumbat atau Berair: Kucing bisa memiliki lendir berwarna jernih atau kuning kehijauan.
- Demam dan Lemas: Kucing mungkin menunjukkan gejala demam, menjadi lesu, dan kehilangan nafsu makan.
- Sariawan di Mulut: Calicivirus sering menyebabkan ulserasi di mulut, yang membuat kucing enggan makan.
- Sulit Bernapas: Pada kasus yang lebih parah, kucing bisa mengalami kesulitan bernapas akibat hidung tersumbat dan peradangan di saluran pernapasan.
Penyebab ISPA pada Kucing:
Virus:
- Feline Herpesvirus (FHV-1): Virus ini menyebabkan Feline Viral Rhinotracheitis (FVR), yang merupakan salah satu penyebab ISPA paling umum pada kucing.
- Feline Calicivirus (FCV): Virus ini juga umum, dan dapat menyebabkan gejala pernapasan serta sariawan di mulut.
Bakteri:
- Chlamydophila felis: Menyebabkan infeksi mata (konjungtivitis) dan dapat mempengaruhi saluran pernapasan.
- Bordetella bronchiseptica: Bakteri yang juga menyebabkan batuk kennel pada anjing, dapat menyerang kucing.
- Mycoplasma: Bakteri ini bisa menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas pada kucing.
Cara Mengatasi ISPA pada Kucing:
- Istirahat dan Nutrisi:
Berikan tempat yang nyaman dan hangat bagi kucing untuk beristirahat. Pastikan kucing tetap makan dan minum. Jika kucing enggan makan, coba berikan makanan basah atau makanan dengan aroma kuat.
- Obat-obatan:
Antibiotik: Jika ISPA disebabkan oleh bakteri (seperti Chlamydophila felis atau Bordetella), dokter hewan akan meresepkan antibiotik untuk mengobati infeksi.
Obat Antiviral: Untuk kasus yang disebabkan oleh virus herpes, dokter mungkin akan meresepkan obat antiviral seperti lysine.
Dekongestan atau Obat Mata: Jika kucing memiliki gejala hidung tersumbat atau konjungtivitis, obat-obatan topikal atau dekongestan bisa diresepkan untuk meringankan gejalanya.
- Hidrasi yang Cukup:
Pastikan kucing tetap terhidrasi dengan baik. Jika kucing mengalami dehidrasi akibat demam atau kurang makan, dokter hewan mungkin akan memberikan cairan melalui suntikan atau infus.
Cara Pencegahan ISPA pada Kucing:
- Vaksinasi:
Vaksinasi adalah cara paling efektif untuk mencegah infeksi saluran pernapasan atas pada kucing. Vaksin yang paling umum melindungi dari Feline Herpesvirus (FHV-1) dan Feline Calicivirus (FCV). Pastikan kucing kesayangan fellas mendapatkan vaksinasi secara rutin sesuai jadwal yang direkomendasikan oleh dokter hewan.
- Isolasi Kucing yang Terinfeksi:
Jika fellas memiliki kucing yang terinfeksi ISPA, isolasi kucing tersebut dari kucing lain untuk mencegah penularan. Cuci tangan setelah menangani kucing yang sakit, dan hindari berbagi peralatan makan atau tempat tidur di antara kucing.
- Jaga Kebersihan Lingkungan:
Bersihkan tempat tidur, kotak pasir, dan mainan kucing secara rutin untuk mencegah penyebaran virus atau bakteri. Disinfeksi lingkungan yang mungkin terpapar kucing yang terinfeksi.
5. Scabies
Penyakit umum selanjutnya adalah Scabies. Buat fellas yang belum tahu apa itu scabies, scabies pada kucing atau dikenal sebagai kudis kucing, adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh penyebaran tungau mikroskopis dari jenis Notoedres cati. Penyakit ini sangat menular, menyebabkan rasa gatal yang ekstrem, dan bisa menyebar ke hewan lain, termasuk manusia (zoonosis). Infeksi scabies dapat menyebabkan kerusakan kulit serius jika tidak ditangani dengan baik.
Gejala Scabies pada Kucing:
- Gatal yang intens: Kucing sering menggaruk secara berlebihan, terutama di sekitar telinga, kepala, dan leher.
- Kerontokan bulu: Akibat seringnya menggaruk dan menggigit kulit, kucing akan mengalami kerontokan bulu, terutama di area kepala, leher, telinga, dan sekitar mata.
- Kulit merah dan iritasi: Kulit kucing tampak merah, meradang, dan ada luka-luka kecil atau lecet yang mungkin berdarah.
- Kerak tebal: Seiring waktu, kulit yang terinfeksi akan menebal dan ditutupi oleh kerak yang berwarna kuning atau abu-abu.
- Perilaku Gelisah: Kucing menjadi lebih gelisah, agresif, atau lebih sering menjilati dan menggigit area yang terinfeksi.
- Penurunan Berat Badan: Jika infeksi berlangsung lama, kucing akan kehilangan nafsu makan dan berat badan.
Penyebab Scabies pada Kucing:
- Notoedres cati adalah tungau yang hidup di kulit kucing dan menyebabkan gatal-gatal hebat. Tungau ini menggali ke dalam kulit, menyebabkan iritasi, peradangan, dan infeksi sekunder.
- Scabies sering menyebar melalui kontak langsung dengan kucing yang terinfeksi atau lingkungan yang terkontaminasi oleh tungau.
Cara Mengatasi Scabies pada Kucing:
- Pengobatan dengan Obat Antitungau:
Ivermectin atau selamectin adalah salah satu obat antitungau yang sering diresepkan oleh dokter hewan untuk membunuh tungau yang menyebabkan scabies. Obat ini bisa diberikan dalam bentuk suntikan, tablet, atau spot-on (obat tetes kulit).
- Mandi dengan Sampo Antiparasit:
Memandikan kucing dengan sampo yang mengandung zat seperti sulfurated lime atau antiparasit khusus dapat membantu menghilangkan tungau dari permukaan kulit dan meringankan iritasi. Perawatan ini biasanya harus dilakukan secara teratur.
- Pembersihan Lingkungan:
Pastikan untuk membersihkan semua tempat tidur, mainan, dan barang yang bersentuhan dengan kucing yang terinfeksi harus dibersihkan atau disinfeksi untuk mencegah penyebaran tungau yang mungkin menempel.
- Isolasi Kucing yang Terinfeksi:
Kucing yang terinfeksi scabies harus diisolasi dari hewan peliharaan lain untuk mencegah penyebaran tungau. Tungau scabies sangat menular, terutama di lingkungan dengan banyak hewan.
Cara Pencegahan Scabies pada Kucing:
- Perawatan Rutin:
Cobalah untuk rutin memeriksa kulit kucing secara teratur, terutama jika kucing sering berada di luar rumah atau berinteraksi dengan kucing lain. Lakukan perawatan bulu dan kulit secara berkala dengan menyisir dan memandikan kucing.
- Obat Pencegahan Parasit Berkala:
Gunakan obat pencegahan parasit yang direkomendasikan dokter hewan secara berkala. Beberapa produk antiparasit topikal juga dapat membantu mencegah infestasi tungau dan kutu.
6. Feline panleukopenia virus (FPV)
Penyakit umum selanjutnya adalah Feline panleukopenia virus (FPV). Buat fellas yang belum tahu apa itu Feline panleukopenia virus (FPV) atau sering disebut juga sebagai distemper kucing atau feline parvovirus, adalah penyakit virus yang sangat menular dan mematikan pada kucing. Penyakit ini menyerang sistem pencernaan, sumsum tulang, dan sistem kekebalan tubuh kucing. FPV sangat berbahaya, terutama bagi anak kucing, kucing yang tidak divaksin, dan kucing dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Ngeri banget kan fellas!
Gejala Feline Panleukopenia:
- Demam Tinggi: Kucing yang terinfeksi FPV sering mengalami demam tinggi, demam bisa mencapai 40°C atau lebih.
- Muntah dan Diare: FPV menyerang sistem pencernaan kucing, menyebabkan muntah dan diare hebat, yang sering diiringi dengan darah.
- Penurunan Nafsu Makan: Kucing perlahan berhenti makan karena peradangan di sistem pencernaan mereka, yang menyebabkan penurunan berat badan yang cepat.
- Lemas dan Depresi: Kucing menjadi sangat lemas, kurang energi, dan cenderung bersembunyi atau tidur lebih lama dari biasanya.
- Dehidrasi: Karena muntah dan diare yang berlebihan, kucing sering mengalami dehidrasi berat, yang bisa memperparah kondisi mereka.
- Penurunan Jumlah Sel Darah Putih: Virus FPV menyerang sel darah putih, yang menyebabkan penurunan jumlah sel darah putih (panleukopenia), melemahkan sistem kekebalan tubuh kucing dan membuatnya rentan terhadap infeksi sekunder.
- Infeksi Sekunder: Karena sistem kekebalan tubuh yang lemah, kucing yang terinfeksi FPV mudah terkena infeksi bakteri atau virus lain.
Penyebab FPV pada Kucing:
- Penyebab utama FPV adalah feline parvovirus, yang merupakan virus sangat tahan lama dan dapat bertahan di lingkungan selama beberapa bulan hingga bertahun-tahun.
- Virus ini menyebar melalui kontak langsung dengan kucing yang terinfeksi atau dengan objek yang terkontaminasi, seperti mangkuk makan, kotak pasir, atau tangan manusia. Virus ini juga dapat menyebar melalui kutu atau serangga.
Cara Mengatasi Feline Panleukopenia:
Perlu digarisbawahi bahwa tidak ada obat khusus untuk FPV, hanya ada pengobatan yang bertujuan untuk mendukung tubuh kucing selama infeksi dan mencegah komplikasi yang lebih serius.
- Perawatan Intensif:
Kucing dengan FPV membutuhkan perawatan intensif yang melibatkan cairan intravena (IV) untuk mencegah dehidrasi dan menjaga keseimbangan elektrolit. Perawatan rumah sakit direkomendasikan untuk kucing yang mengalami gejala parah.
- Obat Antibiotik:
Karena FPV merusak sistem kekebalan tubuh, maka kucing akan sangat rentan terhadap infeksi bakteri sekunder. Dokter hewan akan meresepkan antibiotik untuk mencegah atau mengobati infeksi bakteri tersebut.
- Anti-Muntah dan Anti-Diare:
Obat anti-muntah dan anti-diare dapat diberikan untuk membantu mengontrol muntah dan diare, yang bisa mengurangi kehilangan cairan tubuh. Obat anti-muntah dan anti-diare dapat fellas dapatkan di petshop terdekat ataupun melalui resep dokter ya!
- Nutrisi yang Cukup:
Karena banyak kucing dengan diagnosa FPV tidak mau makan, dokter hewan akan memberikan makanan yang mudah dicerna secara paksa atau melalui infus makanan untuk memastikan kucing tetap mendapat nutrisi.
- Isolasi:
Kucing yang terinfeksi FPV harus diisolasi dari kucing lain untuk mencegah penyebaran virus. Lingkungan tempat tinggal kucing harus dibersihkan secara menyeluruh dengan disinfektan yang efektif melawan parvovirus.
Cara Pencegahan Feline Panleukopenia:
- Vaksinasi:
Perlu diperhatikan untuk semua pemilik kucing dan Cat Lovers, bahwa vaksinasi untuk kucing peliharaan itu bersifat wajib dan menjadi suatu keharusan agar kucing peliharaan terhindar dari penyakit mematikan seperti FPV. Vaksinasi adalah cara paling efektif untuk mencegah FPV. Kucing biasanya divaksinasi terhadap FPV sebagai bagian dari vaksin kombinasi (FVRCP) yang melindungi terhadap virus herpes kucing, calicivirus, dan panleukopenia.
Anak kucing biasanya menerima vaksin FPV pertama pada usia 6-8 minggu, dengan booster yang diberikan setiap beberapa minggu hingga usia 16 minggu. Vaksinasi booster biasanya diberikan setiap 1-3 tahun tergantung rekomendasi dokter hewan.
- Cegah Penyebaran Virus:
Jika ada kucing yang terinfeksi di rumah, segera bersihkan dan disinfeksi area tempat tinggalnya. Hindari memindahkan kucing dari rumah yang terkontaminasi ke lingkungan lain yang bebas virus. Pastikan tangan, pakaian, dan peralatan yang digunakan untuk kucing yang terinfeksi dibersihkan dan didesinfeksi sebelum menangani kucing lain.
- Hindari Penularan Melalui Objek:
Virus FPV bisa bertahan lama di lingkungan. Hindari menggunakan mangkuk makan, mainan, atau peralatan lain yang digunakan oleh kucing yang terinfeksi FPV untuk kucing sehat yang lainnya.
Jika kucingmu menunjukkan gejala seperti muntah, diare, demam tinggi, dan lemas, CeritaKucing.Id merekomendasikan untuk segera membawa kucingmu ke dokter hewan. Hal ini bertujuan untuk penanganan dini yang dapat meningkatkan peluang kucing bertahan hidup. Jika fellas mencurigai kucing peliharaanmu telah terpapar FPV, segeralah berkonsultasi dengan dokter hewan untuk tindakan pencegahan lebih lanjut ya fellas!
7. Feline calicivirus (FCV)
Daftar penyakit yang umumnya sering terjangkit oleh kucing selanjutnya adalah Feline calicivirus (FCV). FCV memengaruhi sistem pernapasan kucing dan dapat menyebabkan berbagai gejala yang mirip dengan flu kucing, seperti bersin, pilek, dan luka di mulut. Penyakit ini sangat menular, terutama di tempat-tempat dengan banyak kucing seperti penampungan atau tempat penitipan hewan.
Gejala Feline Calicivirus:
Gejala FCV dapat bervariasi dari ringan hingga parah, tergantung pada strain virus dan kondisi kesehatan kucing.
- Bersin dan pilek: Gejala umum dari infeksi saluran pernapasan atas yaitu kucing sering menunjukkan gejala hidung berair dan bersin terus-menerus.
- Konjungtivitis: Yaitu peradangan pada mata yang ditandai dengan mata merah, berair, dan bengkak.
- Luka di mulut dan gusi: Luka atau di lidah, gusi, atau atap mulut sering kali muncul pada kucing yang terinfeksi FCV, membuat mereka kesulitan makan dan merasa sakit.
- Demam: Kucing yang terinfeksi umunya sering mengalami demam.
- Sariawan di mulut: Kucing akan menunjukkan tanda-tanda kesulitan makan karena sariawan atau luka pada mulut yang menyakitkan.
- Lemas dan kehilangan nafsu Makan: Kucing menjadi lesu, tidak aktif, dan kehilangan nafsu makan.
- Kesulitan bernapas: Dalam kasus yang lebih parah, infeksi FCV dapat berkembang menjadi pneumonia, menyebabkan kesulitan bernapas pada kucing.
Penyebab FCV:
- FCV adalah virus RNA yang menyerang saluran pernapasan bagian atas kucing, menyebabkan infeksi yang bervariasi tingkat keparahannya.
- Virus ini menyebar melalui kontak langsung dengan kucing yang terinfeksi, kontak dengan air liur, lendir hidung, atau mata kucing yang sakit. FCV juga dapat menyebar melalui benda-benda seperti mangkuk makan, kotak pasir, atau tempat tidur yang digunakan bersama oleh kucing yang terinfeksi.
Cara Mengatasi Feline Calicivirus:
Perlu fellas ketahui, tidak ada obat khusus untuk menghilangkan virus FCV, tetapi pengobatan bertujuan untuk mengurangi gejala dan mendukung sistem kekebalan tubuh kucing untuk melawan virus.
- Terapi Pendukung:
Terapi memberikan memberikan perawatan pendukung seperti cairan intravena (IV) untuk mencegah dehidrasi, terutama pada kucing yang mengalami demam tinggi atau kesulitan makan.
- Obat Anti-inflamasi dan Pereda Nyeri:
Dokter hewan akan meresepkan obat anti-inflamasi dan pereda nyeri untuk mengurangi rasa sakit akibat luka di mulut atau radang sendi.
- Penggunaan Uap atau Humidifier:
Untuk membantu melegakan saluran pernapasan, penggunaan uap atau humidifier di lingkungan kucing dapat membantu untuk pernapasan kucing.
- Makanan Lunak dan Nutrisi:
Karena sakit di mulut, kucing akan kesulitan makan makanan keras. Fellas dapat memberikan makanan basah atau lunak untuk mendorong mereka tetap makan dan terhindar dari dehidrasi serta malnutrisi.
Cara Pencegahan Feline Calicivirus:
- Vaksinasi:
Vaksinasi rutin adalah langkah paling efektif dalam mencegah FCV. FCV biasanya dimasukkan dalam vaksin kombinasi (FVRCP) yang juga melindungi dari Feline Viral Rhinotracheitis dan Panleukopenia.
Anak kucing biasanya menerima vaksin pertama kali pada usia 6-8 minggu, diikuti dengan booster sesuai dengan anjuran dokter hewan. Vaksinasi booster biasanya dilakukan setiap 1-3 tahun.
- Isolasi Kucing yang Terinfeksi:
Kucing yang terinfeksi FCV harus diisolasi dari kucing lain untuk mencegah penyebaran virus. Virus ini sangat menular dan dapat menyebar melalui kontak langsung maupun benda-benda yang terkontaminasi.
- Hindari Tempat dengan Banyak Kucing:
Jika memungkinkan, hindari membawa kucing ke tempat-tempat di mana ada banyak kucing, seperti penitipan hewan atau penampungan, terutama jika Anda tidak yakin mengenai status vaksinasi kucing lain.
- Pembersihan dan Disinfeksi Peralatan Kucing:
Pastikan semua peralatan kucing, termasuk mainan, mangkuk, dan tempat tidur, dibersihkan secara rutin. Virus ini bisa menyebar melalui benda-benda yang terkontaminasi oleh kucing yang sakit.
Dengan perawatan yang tepat, banyak kucing dapat pulih sepenuhnya dari infeksi FCV, tetapi beberapa kucing mungkin tetap menjadi pembawa virus seumur hidup tanpa menunjukkan gejala, maka dari itu jangan lupa untuk memvaksin peliharaanmu ya fellas!
8. Diabetes
Selanjutnya adalah diabetes, diabetes pada kucing atau diabetes mellitus adalah gangguan metabolik yang terjadi ketika tubuh kucing tidak dapat menggunakan gula (glukosa) dengan benar, akibat kekurangan insulin atau respons tubuh yang tidak normal terhadap insulin. Kondisi ini menyebabkan kadar glukosa dalam darah meningkat, yang dikenal sebagai hiperglikemia. Diabetes pada kucing mirip dengan diabetes tipe 2 pada manusia dan umumnya terjadi pada kucing dewasa, terutama yang mengalami obesitas.
Gejala Diabetes pada Kucing:
- Peningkatan rasa haus (Polidipsia): Kucing akan minum air lebih banyak dari biasanya.
- Peningkatan frekuensi buang air kecil (Poliuria): Kucing akan sering buang air kecil, karena tubuh mencoba mengeluarkan kelebihan glukosa melalui urin.
- Penurunan berat badan: Meskipun nafsu makan meningkat, kucing dapat kehilangan berat badan karena tubuh tidak dapat menggunakan glukosa sebagai energi.
- Nafsu makan meningkat (Polifagia): Kucing mungkin makan lebih banyak tetapi tetap kehilangan berat badan.
- Lemas dan tidak aktif: Kucing yang terkena diabetes mungkin terlihat lemas dan kurang bertenaga.
- Bulu kusam: Kondisi bulu kucing dapat memburuk, menjadi kusam, rontok, atau tidak terawat dengan baik.
Penyebab Diabetes pada Kucing:
- Obesitas: Kucing yang kelebihan berat badan memiliki risiko lebih tinggi terkena diabetes karena lemak tubuh dapat mengganggu efektivitas insulin.
- Usia: Kucing yang lebih tua (di atas 7 tahun) lebih rentan terhadap diabetes.
- Pola makan: diet tinggi karbohidrat dan rendah protein dapat mempengaruhi metabolisme kucing, meningkatkan risiko diabetes.
- Faktor genetik: Beberapa ras kucing mungkin memiliki kecenderungan genetik untuk mengembangkan diabetes.
- Gaya hidup kurang aktif: Kucing yang tidak aktif memiliki risiko lebih besar terkena obesitas, yang dapat menyebabkan diabetes.
Cara Mengatasi Diabetes pada Kucing:
- Pemberian Insulin:
Kucing dengan diabetes biasanya memerlukan suntikan insulin harian untuk membantu mengatur kadar gula darah. Suntikan ini diberikan di bawah kulit, biasanya dua kali sehari, sesuai instruksi dokter hewan.
- Perubahan Pola Makan:
Diet rendah karbohidrat dan tinggi protein sering direkomendasikan untuk membantu mengendalikan kadar gula darah. Makanan khusus untuk kucing dengan diabetes dapat membantu menjaga stabilitas glukosa dalam darah. Pemberian makanan harus diatur dengan jadwal yang konsisten untuk disesuaikan dengan pemberian insulin ya fellas!
- Pemantauan Kadar Gula Darah:
Pemantauan kadar glukosa darah secara rutin penting untuk memastikan bahwa pengobatan bekerja dengan baik dan kadar gula darah tidak terlalu rendah (hipoglikemia) atau terlalu tinggi (hiperglikemia).
- Kontrol Berat Badan:
Jika kucing mengalami obesitas, dokter hewan biasanya akan merekomendasikan program penurunan berat badan yang sehat. Mengurangi berat badan dapat meningkatkan respons kucing terhadap insulin dan membantu mengontrol diabetes.
Cara Pencegahan Diabetes pada Kucing:
- Menjaga Berat Badan Ideal:
Menghindari obesitas adalah salah satu cara paling efektif untuk mencegah diabetes pada kucing. Pastikan kucing fellas memiliki berat badan yang sehat melalui diet seimbang dan latihan fisik.
- Memberikan Diet Seimbang:
Berikan makanan berkualitas tinggi yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi kucing. Makanan rendah karbohidrat dan tinggi protein sering direkomendasikan untuk menjaga kesehatan metabolik kucing.
- Aktivitas Fisik yang Teratur:
Bermain dengan kucing dan memberikan stimulasi fisik setiap hari dapat membantu menjaga berat badan yang sehat dan meningkatkan metabolisme.
- Cek Kesehatan Secara Berkala:
Pemeriksaan kesehatan rutin ke dokter hewan dapat membantu mendeteksi masalah kesehatan lebih awal, termasuk gejala awal diabetes.
9. Infeksi Saluran Kencing Bagian Bawah
Infeksi Saluran Kencing Bagian Bawah pada kucing (Feline Lower Urinary Tract Disease, disingkat FLUTD) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan berbagai kondisi yang memengaruhi kandung kemih dan uretra kucing. FLUTD dapat menyebabkan gejala yang sangat tidak nyaman dan berpotensi serius, termasuk kesulitan buang air kecil, nyeri, dan bahkan penyumbatan saluran kemih, terutama pada kucing jantan.
Gejala FLUTD:
- Kesulitan Buang Air Kecil (Stranguria): Kucing terlihat berusaha keras buang air kecil, tetapi hanya menghasilkan sedikit urin atau tidak ada sama sekali.
- Sering Buang Air Kecil (Pollakiuria): Kucing sering buang air kecil dalam jumlah kecil.
- Darah dalam Urin (Hematuria): Urin kucing mengandung darah, yang bisa terlihat merah muda atau kemerahan.
- Buang Air Kecil di Tempat yang Tidak Biasa: Kucing mungkin mulai buang air kecil di luar kotak pasir, seperti di lantai atau furnitur.
- Nyeri Saat Buang Air Kecil: Kucing mungkin mengeong atau menunjukkan tanda-tanda kesakitan saat buang air kecil.
- Sering Menjilat Area Genital: Kucing sering menjilat area genital untuk meredakan ketidaknyamanan.
- Tidak Bisa Buang Air Kecil (Penyumbatan): Ini adalah keadaan darurat medis yang membutuhkan perhatian segera. Kucing tidak bisa buang air kecil sama sekali dan bisa menunjukkan tanda-tanda stres berat, muntah, dan bahkan kolaps.
Penyebab FLUTD:
FLUTD bukanlah satu penyakit tunggal, melainkan serangkaian masalah yang dapat menyebabkan gejala yang sama. Penyebab umum FLUTD meliputi:
- Batu Kandung Kemih (Urolitiasis): Batu atau kristal dapat terbentuk di kandung kemih atau uretra, mengiritasi saluran kemih dan menyebabkan nyeri.
- Infeksi Bakteri: Infeksi saluran kemih (ISK) yang disebabkan oleh bakteri dapat mengiritasi kandung kemih dan menyebabkan peradangan.
- Feline Idiopathic Cystitis (FIC): Penyebab umum dari FLUTD adalah peradangan kandung kemih yang tidak diketahui penyebab pastinya. Stres sering kali dikaitkan dengan FIC.
- Penyumbatan Uretra: Pada kucing jantan, uretra (saluran yang membawa urin keluar dari tubuh) lebih sempit dan lebih mudah tersumbat oleh kristal atau lendir, yang menyebabkan kegawatan medis.
- Tumor Kandung Kemih: Meskipun jarang, tumor juga bisa menjadi penyebab FLUTD.
- Kelainan Anatomi: Beberapa kucing mungkin memiliki kelainan bawaan yang menyebabkan masalah pada saluran kemih.
Cara Mengatasi FLUTD:
Pengobatan FLUTD tergantung pada penyebab spesifik kondisi tersebut. Beberapa langkah pengobatan umum termasuk:
- Perawatan Medis Darurat (Jika Ada Penyumbatan):
Penyumbatan uretra adalah keadaan darurat medis, terutama pada kucing jantan. Dokter hewan akan menggunakan kateter untuk menghilangkan penyumbatan dan memungkinkan urin mengalir. Setelah itu, kucing mungkin memerlukan rawat inap dan cairan intravena (IV) untuk mendukung pemulihan.
- Pengobatan untuk Infeksi Bakteri:
Jika infeksi saluran kemih disebabkan oleh bakteri, dokter hewan akan meresepkan antibiotik untuk menghilangkan infeksi.
- Diet Khusus:
Kucing dengan batu kandung kemih atau kristal mungkin perlu diberikan makanan khusus yang dapat melarutkan kristal dan mencegah pembentukan batu baru. Diet rendah magnesium dan fosfor sering kali direkomendasikan.
Makanan basah juga dapat membantu meningkatkan asupan cairan dan menjaga urin tetap encer, sehingga mengurangi risiko pembentukan kristal.
- Pengobatan untuk Feline Idiopathic Cystitis (FIC):
FIC sering kali dikelola dengan kombinasi perubahan pola makan, manajemen stres, dan peningkatan asupan air. Pemberian makanan basah serta menambahkan lebih banyak mangkuk air atau air mancur kucing dapat membantu.
Mengurangi stres pada kucing, misalnya dengan menjaga lingkungan yang stabil dan memberikan tempat persembunyian yang aman, dapat membantu mencegah kambuhnya FIC.
- Peningkatan Asupan Air:
Mendorong kucing untuk minum lebih banyak air sangat penting dalam mengatasi dan mencegah masalah saluran kemih. Ini bisa dilakukan dengan memberikan makanan basah, menambah lebih banyak sumber air di rumah, atau menggunakan air mancur kucing yang mengalir.
Cara Pencegahan FLUTD pada Kucing:
- Pemberian Makanan Khusus:
Diet yang diformulasikan khusus untuk kesehatan saluran kemih dapat membantu mencegah pembentukan batu dan kristal. Pastikan kucing fellas mendapat makanan berkualitas tinggi yang rendah magnesium dan fosfor, terutama jika mereka pernah mengalami masalah saluran kemih sebelumnya.
- Menjaga Berat Badan Ideal:
Obesitas meningkatkan risiko masalah saluran kemih pada kucing. Pastikan kucing Anda mendapatkan makanan dalam jumlah yang tepat dan tetap aktif untuk menjaga berat badan yang sehat.
- Pemantauan Kesehatan Rutin:
Lakukan kunjungan rutin ke dokter hewan untuk memantau kesehatan saluran kemih kucing Anda. Jika kucing pernah mengalami FLUTD, pemeriksaan rutin dapat membantu mendeteksi masalah sejak dini sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
Infeksi Saluran Kencing Bagian Bawah pada kucing adalah masalah kesehatan yang umum dan bisa sangat serius, terutama jika terjadi penyumbatan uretra. Perawatan dan pencegahan FLUTD melibatkan perubahan pola makan, manajemen stres, dan peningkatan asupan air. Menjaga kesehatan kucing secara keseluruhan, seperti menjaga berat badan yang ideal dan mengurangi stres, sangat penting untuk mencegah kambuhnya masalah saluran kemih.
10. Cacingan
Penyakit umum terakhir adalah cacingan, penyakit cacingan pada kucing adalah infeksi yang disebabkan oleh berbagai jenis cacing parasit yang bisa hidup di dalam tubuh kucing, seperti di usus, jantung, atau paru-paru. Cacingan adalah salah satu masalah kesehatan yang umum dialami oleh kucing dan bisa menimbulkan berbagai gejala, tergantung pada jenis cacing yang menginfeksi.
Gejala Cacingan pada Kucing:
Gejala yang muncul bergantung pada jenis cacing dan tingkat infeksi. Berikut adalah beberapa gejala umum cacingan pada kucing:
- Penurunan berat badan: Kucing akan kehilangan berat badan meskipun makan dalam jumlah normal atau lebih banyak dari biasanya.
- Muntah dan diare: Kucing yang terinfeksi cacing sering muntah, dan dalam beberapa kasus, cacing dapat terlihat di muntahan. Diare, kadang-kadang dengan darah, juga merupakan gejala umum.
- Perut membuncit: Terutama pada anak kucing, infeksi dapat menyebabkan perut tampak buncit.
- Kotoran mengandung Cacing: Cacing atau segmen cacing pita kadang-kadang terlihat di kotoran kucing atau di area anus.
- Lemas dan lesu: Kucing yang terkena infeksi cacing tambang bisa menjadi lemah karena kehilangan darah yang menyebabkan anemia.
- Bulu kusam: Bulu kucing yang terinfeksi cacing sering kali terlihat kusam dan tidak terawat.
- Batuk: Batuk bisa terjadi jika kucing terinfeksi cacing paru-paru.
- Anemia: Gejala ini biasanya muncul pada infeksi cacing tambang karena cacing ini menghisap darah dari dinding usus kucing.
Jenis-Jenis Cacing yang Menyerang Kucing:
- Cacing gelang (Toxocara cati atau Toxascaris leonina):
Cacing ini sering menyerang anak kucing dan bisa ditularkan melalui susu ibu yang terinfeksi. Cacing ini hidup di usus kucing dan bisa menyebabkan gangguan pencernaan.
- Cacing pita (Dipylidium caninum):
Jenis parasit ini biasanya ditularkan melalui kutu. Ketika kucing menjilat kutu yang terinfeksi, telur cacing pita bisa masuk ke tubuh kucing dan berkembang biak di dalam usus.
- Cacing tambang (Ancylostoma spp.):
jenis ini bisa menembus kulit kucing atau tertelan saat kucing menjilat bulunya yang terkontaminasi. parasit ini hidup di usus kecil dan menghisap darah, sehingga dapat menyebabkan anemia pada kucing.
- Cacing hati (Capillaria spp. atau Platynosomum fastosum):
Jenis parasit ini mempengaruhi fungsi hati kucing dan biasanya ditularkan melalui konsumsi hewan seperti tikus atau serangga yang terinfeksi.
- Cacing paru-paru (Aelurostrongylus abstrusus):
Cacing ini hidup di paru-paru kucing dan menyebabkan masalah pernapasan. Biasanya ditularkan melalui konsumsi siput atau burung yang terinfeksi.
Cara Mengatasi Cacingan pada Kucing:
- Pengobatan Cacing (Anthelmintik):
Dokter hewan akan meresepkan obat cacing yang sesuai berdasarkan jenis cacing yang menginfeksi kucing. Obat ini biasanya diberikan dalam bentuk tablet, pasta, atau suntikan. Pengobatan harus diulang sesuai dengan rekomendasi dokter hewan untuk memastikan semua cacing, termasuk larva, terbunuh.
- Obat untuk Mengatasi Gejala Lain:
Jika kucing mengalami diare, muntah, atau dehidrasi akibat infeksi cacing, dokter hewan mungkin akan memberikan pengobatan tambahan seperti cairan intravena untuk mengatasi dehidrasi atau suplemen untuk mengatasi anemia.
- Pengobatan untuk Kutu:
Jika kucing terinfeksi cacing pita yang ditularkan oleh kutu, pengobatan kutu juga harus dilakukan bersamaan dengan pengobatan cacing.
Cara Pencegahan Cacingan pada Kucing:
- Pemberian Obat Cacing Secara Rutin:
Berikan obat cacing pada kucing secara rutin sesuai dengan rekomendasi dokter hewan, terutama jika kucing sering berada di luar ruangan atau berburu hewan kecil. Anak kucing harus mendapatkan obat cacing pada usia yang masih sangat muda (mulai 6 minggu) dan diulang setiap beberapa bulan.
- Mengendalikan Kutu:
Karena cacing pita sering ditularkan oleh kutu, pengendalian kutu sangat penting. Gunakan produk anti-kutu yang direkomendasikan oleh dokter hewan secara teratur.
- Menjaga Kebersihan Lingkungan:
Jaga kebersihan kotak pasir dan lingkungan tempat tinggal kucing. Bersihkan kotoran kucing setiap hari dan hindari kontak kucing dengan kotoran hewan lain yang mungkin terinfeksi cacing.
- Batasi Akses ke Hewan Liar atau Hewan yang Terinfeksi:
Jika memungkinkan, hindari membiarkan kucing untuk berburu hewan liar seperti tikus, burung, atau serangga yang mungkin menjadi pembawa cacing parasit.
- Pemeriksaan Kesehatan Rutin:
Lakukan pemeriksaan rutin ke dokter hewan untuk mendeteksi infeksi cacing lebih awal. Jika kucing fellas menunjukkan tanda-tanda cacingan, segera bawa ke dokter hewan untuk mendapatkan perawatan yang tepat ya!
Conclusion
Nah, itulah beberapa penyakit pada kucing yang perlu fellas ketahui. CeritaKucing.Id sudah memberi daftar 10 penyakit umum pada kucing dengan gejala, penyebab, cara mengatasi hingga cara pencegahan. Lengkap banget kan fellas! Nah sekarang karena fellas sudah mengetahui semua yang harus diketahui oleh pemilik kucing jika kucing peliharaannya menunjukkan tanda-tanda sakit, kamu dapat melakukan langkah antisipasi atau membawanya ke dokter hewan ya fellas, sebelum terlambat! Jika terdapat pertanyaan mengenai gejala penyakit yang dialami oleh kucing, jangan ragu untuk tanyakan langsung kepada dokter hewan.
